"Ayah berangkat dulu ya, Nak. Jangan sampai terlambat sekolah. Maaf ayah tidak bisa mengantarmu hari ini," ucap laki-laki paruh baya itu sembari merapikan dasinya.

Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan tatapan mengerti. Ia lalu menunduk membalas pertanyaan ayahnya dan melahap sarapanya kembali.

Rere Rosita, gadis kecil yang masih menduduki bangku SD kelas Lima. Hampir 11 tahun ia tinggal bersama ayahnya. Kematian mamanya membuat Rere menjadi anak yang pendiam. Untuk usianya memang masih terbilang kecil, namun Rere jauh lebih dewasa dari teman-temanya.

Rere mengayuh sepeda bututnya perlahan. Ia membayangkan saat-saat indah bersama keluarga lengkapnya. Namun dengan cepat Rere membuangnya jauh-jauh. Ia pasti akan terlambat ke sekolah jika membayangkan angan-angan yang tidak akan kembali lagi. Rere mengayuh sepedanya lebih cepat lagi agar tidak terlambat ke sekolah.

Pagi ini gerbang sekolah masih ditutup. Satpam sekolah juga belum kelihatan sama sekali. Rere menunggu di depan pintu gerbang persis. Dari jauh, anak-anak lain mulai berdatangan. Namun mereka tidak pernah datang sendiri, di belakangnya pasti mereka selalu bersama mamanya.

"Ma, jangan lupa nanti siang menjemputku lagi." ucap Marsha salah satu teman sekelas Rere.

"Kau ini, kapan ibumu tidak pernah mengantar dan menjemputmu pulang ke rumah? Belajarlah yang baik dan semangat." jawab wanita paruh baya itu kepada Marsha sembari mengecup kening anaknya.

Rere menatap keduanya tanpa berkedip sedikitpun. Mata bulatnya selalu membayangkan kehadiran mamanya kembali.

"Krrrinnnggg ... kriiiiingggg ... kriiiiinggg ..." Marsha membunyikan bel sepeda Rere. Rere terperanjat dari lamunanya.

"Apa yang sedang kau lihat, Rere. Apa kau tidak mendengar lonceng sekolah sudah berbunyi hampir tiga kali. Tapi di mana mamamu? Kenapa kau berdiri sendirian di sini? Lihatlah, teman-teman kita membawa ibunya ke sekolah. Kapan mamamu akan mengantarmu?" Marsha mengejek Rere lalu berjalan memasuki gerbang meningglkan Rere yang masih berdiri.

Mata bulat Rere berkaca-kaca. Rere berjanji kepada Ayahnya agar menahan air matanya. Ia hanya akan menangis ketika berada di rumah bukan di sekolahnya. Rere melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah dan segera memarkir sepedanya.

**

 

Lelaki paruh baya itu mengusap keringatnya yang mengalir deras tak henti-hentinya. Tanganya meraih sebotol minuman dan meminumnya dengan sekali tegukan. Terik matahari membuat semua kulitnya tersengat. Namun lelaki paruh baya itu tidak akan berhenti begitu saja untuk mencari nafkah dan mengumpulkan uang untuk membeli kado putri kecilnya.

"Angkat beberapa karung beras itu di dalam mobil, setelah itu kau boleh pulang," ucap lelaki jangkung yang berpakaian rapi kepada lelaki paruh baya itu.

Ayah Rere beranjak berdiri dan melanjutkan pekerjaanya kembali. Beberapa karung beras mulai dipanggulnya lagi.

"Masukkan semua karung beras ke dalam toko sebelahnya," ucap lelaki jangkung itu memperingatkan.

Lelaki paruh baya itu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia memang sudah lama bekerja menjadi kuli panggul di pasar. Ayah Rere merahasiakan kepada putri semata wayangnya agar tidak mencemaskanya. Lelaki paruh baya itu mengambil kemeja dan dasinya dari dalam tasnya. Ia akan pulang ke rumah dengan pakaian rapi kembali.

"Bisakah aku meminta pertolonganmu?" ucap Ayah Rere pelan kepada lelaki yang masih seumuran denganya.

Lelaki dengan mata sipit itu menghentikan pekerjaanya. Lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tanganya dari cat lukisan.

"Apa yang kau inginkan?" Lelaki sipit itu kembali bertanya setelah Ayah Rere memberikan foto wanita kepadanya.

"Apa kau ingin aku melukis istrimu di sini? Berapa banyak kau akan membayarku," Ayah Rere mengeluarkan semua uang hasil jerih payahnya selama satu bulan.

"Aku akan memberikan tambahan lagi ketika kau selesai melukisnya." tutur Ayah Rere memelas sembari memberikan beberapa lembar uang kepada lelaki sipit itu.

"Baiklah, Aku akan melukisnya untuk putrimu. Berterimakasihlah padaku," jawab lelaki sipit itu sinis.

Ayah Rere mengembangkan senyumnya. Senyum bahagia,"Rere pasti akan menyukainya."

**

 

Lonceng sekolah berbunyi memenuhi semua ruang kelas. Waktu pulang telah tiba. Anak-anak berlari menghampiri para orang tua yang sudah lama menunggunya.

"Mama ... kau sudah datang?" Ucap salah satu gadis kecil tepat berada didepanya.

"Ayolah, Nak. Mari pulang, mama sudah menyiapkan makan malam untukmu," wanita paruh baya itu menyambut putrinya dengan meriah.

Rere masih menatapnya dengan tatapan sedikit iri kepada teman-temanya. Rere meratapi dirinya sendiri. Mengapa harus dirinya yang tidak mempunyai seorang Ibu. Dari jauh, Ayah Rere memandangi putrinya dengan perasaan sangat bersalah kepada putrinya.

"Ayah sudah lama menunggumu, Nak. Mari kita pulang bersama," ucap lelaki paruh baya itu mengalihkan perhatian.

Rere menghiraukan ucapan ayahnya dan berlari meninggalkanya. Lelaki paruh baya itu mengejarnya dari belakang.

"Apa Ayah menyakitimu, Nak. Bagaimana ayah bisa menebus kesalahanku padamu?" Rere masih saja terdiam di meja makanya. Lelaki paruh baya itu menghampiri Rere sembari membawa makanan yang baru saja di masaknya.

"Makanlah dulu, Nak. Ayah akan mencari cara untuk memperbaiki kesalahanku," jawab lelaki paruh baya itu sembari menyuapkan beberapa sendok kepada Rere.

Rere menerima suapan dari Ayahnya. Air matanya mulai mengalir di depan lelaki paruh baya itu. Rere menelan habis makananya. Ayah Rere terdiam beberapa saat.

"Ayah, Rere tidak akan kembali ke sekolah lagi. Teman-teman mengejek Rere," gadis kecil itu mulai membuka percakapan.

Lelaki paruh baya itu mengambil nafas panjang. "Kalau Rere tidak sekolah, Ayah juga tidak akan pergi bekerja!" Tutur Handoyo pura-pura mengancam.

Rere menyeka air matanya. "Bagaimana mungkin ayah tidak pergi bekerja?" Rere mengelak mendengar jawaban dari Ayahnya.

Ayah Rere tersenyum kecil. Tangannya menggenggam tangan kecil putrinya. Rere menatap lelaki paruh baya itu dengan perasaan sedikit bersalah.

"Sebentar lagi kau akan ulang tahun, Nak. Ayah berjanji akan mengabulkan permintaanmu. Namun dengan syarat kau harus kembali ke sekolah lagi,"

Mata Rere berbinar-binar mendengar perkataan ayahnya. Senyum manisnya mengembang kembali. Rere sudah memikirkan akan meminta kado spesial dari Ayahnya.

"Benarkah, Ayah?"

"Lalu apa sebenarnya yang diinginkan putri kecilku di hari ulang tahunya?"

Rere mendekatkan wajahnya kepada Ayahnya. "Di hari ulang tahun, Rere hanya ingin melihat Mama, Ayah." Rere membisiki Ayahnya pelan.

Lelaki paruh baya itu mengambil nafas kembali. Mata tuanya menatap putri kecilnya lagi. Ia memeluk putrinya dengan erat.

"Ayah akan mengabulkanya," bisiknya pelan.

**

 

Lelaki paruh baya itu kembali mengenakan kemeja dan jas yang terlihat mahal seperti biasanya. Ia berfikir dengan cara seperti ini akan meringankan beban pikiran putrinya.

"Hari ini Ayah akan mengantarmu pergi ke sekolah. Bersiaplah dengan rapi."

Rere menunduk pelan mendengar permintaan Ayahnya. Lalu keduanya pergi bersama menuju sekolah Rere.

"Belajarlah dengan baik, mama akan menjemputmu lagi," ucap wanita paruh baya itu seperti biasanya.

"Baiklah, Ma." jawab Marsha kepada Ibunya sembari menatap kedatangan Rere di depanya.

Marsha berjalan mendekati Rere. "Kapan Mamamu akan mengantarmu sekolah? Kau harus mengakui kau memang tidak punya mama lagi," ucap Marsha sinis.

Rere menahan air matanya lagi. Ia teringat ucapan Ayahnya tadi malam. "Aku pasti akan melihat Mamaku lagi dalam waktu dekat ini," balas Rere dengan mantap.

Marsha tidak memedulikanya. Keduanya lalu pergi memasuki gerbang sekolah.

"Lanjutkan merangkum materinya di rumah, kalian bisa mengumpulkan tugasnya di meja guru besok." Bu Sita menutup pembelajaran hari ini.

"Yeeeeeeeeaahhh ..."

Anak-anak bersorak gembira. Mereka berlari tunggang langgang dari kelasnya. Halaman parkir sekolah sangat ramai dipenuhi para orang tua yang menjemput anaknya pulang.

Rere mengemasi alat tulisnya dengan cepat. Langkahnya juga dipercepat agar ia cepat sampai menuju rumahnya. Ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Ibunya.

"Aku pulang, Ayah," ucap Rere setengah berteriak.

Rere menatap ke arah sekelilingnya. Sunyi. Ruang tamu begitu sepi tanpa kehadiran seorang pun. Ia juga tidak mendapati Mamanya berada di ruang keluarga. Rere berjalan menuju arah kamarnya. Masih sama. Sepi yang didapatnya.

"Ayah, kau dimana?"

Dari belakang lelaki paruh baya itu muncul dengan tiba-tiba. Tanganya membawa benda sesuatu yang masih terbungkus kertas kado ulang tahun. Di sampingnya, Ayah Rere menyiapkan kue ulang tahun yang cukup mewah kepada Rere.

"Ayah, di sini." Rere menoleh ke belakang.

"Taraaaa ... ini hadiah ulang tahunmu, Nak. Semoga kau menyukainya!" Handoyo membuka bungkus kado dan memberikan isinya kepada Rere. Rere setengah terkejut.

Rere terdiam, tak menjawab. Kali ini Rere tidak bisa menahan air matanya. Walaupun ia ingin menyekanya namun wajah Mamanya membuatnya harus menangis.

"Apa yang kau bawa, Ayah? Aku tidak menginginkan lukisan mama. Aku hanya ingin bertemu denganya," jawab Rere ditengah isak tangisnya.

"Maafkan Ayah, Nak. Hanya ini yang bisa Ayah berikan untukmu. Dengan melihat lukisan ini ini, kau akan terus bersama Mamamu." Handoyo mencoba menjelaskan kepada putrinya.

Rere menatap lukisan mamanya dengan tatapan haru, kemudian ia meletakkan lukisan itu di meja dan membiarkanya begitu saja.

"Maafkan Aku, Ayah. Rere tidak meminta lukisan itu. Rere hanya ingin bertemu mama lagi," Rere meninggalkan Ayahnya yang masih berdiri mematung.

Lelaki paruh baya itu mengemas lukisan istrinya. Lalu membawanya ke dalam kamarnya.

**

 

"Tok ... tok ... tok ..."

Kamar Rere masih terkunci rapat. Entah sudah berapa lama Rere mengurung di dalam kamarnya dan tidak bebicara kepada Ayahnya. Handoyo bahkan sudah tidak bisa melakukan apapun kepada putrinya.

"Makanlah, Nak. Ayah sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Ayah akan menemuimu nanti sore setelah pulang kerja,"

Rere mendengar jelas ucapan Ayahnya. Ia lalu keluar dan mencari seragamnya untuk pergi ke sekolah.

"Rere? Apa kau sudah merangkum tugasmu?" Bu Sita membuyarkan lamunan Rere.

Rere menunduk pelan dan mengambil buku tugas di dalam tasnya,"Aku sudah menyelesaikanya dengan baik," balas Rere datar.

"Baiklah, kumpulkan segera di meja guru. Setelah itu kau bisa segera pulang ke rumah."

Rere pulang ke rumah tidak bersama sepedanya. Ia lupa karena sangat terburu-buru agar tidak terlambat pergi ke sekolah. Rere berjalan melewati pasar yang lebih dekat dengan arah rumahnya.

"Hei, lakukan pekerjaanmu dengan benar!" Ucap lelaki sipit kepada pekerjanya.

Lelaki paruh baya itu terlihat sudah kehabisan tenaganya. Keringat dinginya ikut mengalir deras. Beberapa luka dipundaknya terlihat semakin banyak. Rere terpaku. Dirinya terperanjat melihat lelaki paruh baya itu. Mata bulatnya telah menilai salah kepada Ayahnya selama ini. Rere tidak bisa menyalahkan Ayahnya lagi. Rere baru mengetahui betapa susahnya ayahnya menghidupinya. Rere yakin lukisan Mamanya pasti membutuhkan uang banyak agar dapat membelinya. Air mata Rere mengalir deras membasahi bibir mungilnya. Ia tidak tega melihat Ayahnya diperlakukan dengan tidak sewajarnya. Rere berlari ke rumah dengan cepat. Ia hanya harus menemukan lukisan Mamanya.

"Maafkan Aku, Ma." Rere menangis tersedu-sedu begitu menatap lukisan Mamanya.

"Apa yang kau lakukan, Nak? Kenapa kau menangis seperti ini?" Handoyo terlihat kebingungan.

"Maafkan Rere, Ayah. Aku harus membebanimu selama ini hanya karena sikapku yang tidak bisa menerima kepergian Mama."

Lelaki paruh baya itu berjalan mendekati putri semata wayangnya. Memeluknya dengan kasih sayang. Rere masih terisak.

"Kau lebih berharga dari segalanya, Nak. Hanya kau yang Ayah punya selama ini. Jangan pernah tinggalkan Ayah."

"Rere akan menerima lukisan Mama sebagai kado yang paling terindah. Terimakasih, Ayah." lelaki paruh baya itu menunduk pelan kepada putri kecilnya.

 

***

 

 

 

Syariiefha Sya

Hidup adalah anugrah. lalu syukurilah nikmat hidupmu!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.