“Ayolah Ariel, bantu aku menemukan ide ...” ucap Janet penuh harap kepada Ariel.

Ariel Agatha, gadis berperawakan dengan tinggi 170 cm. Memiliki bentuk tubuh yang proporsional dengan mata bulat yang indah. Dengan warna kulit putih bersih dilengkapi dengan rona pipi yang kemerah-merahan. Membuat siapa saja menginginkanya.

Ariel menggenggam tangan Janet dengan hangat. Ariel akan melakukan apa saja demi membuat Janet mempunyai pasangan di acara Pesta Hollywood akhir pekan semester.

Berbeda lagi dengan Ariel. Janet Margaretta, ia berperawakan lebih tinggi dari Ariel. Dengan tubuh semampai 178 cm membuat penampilanya semakin percaya diri. Kulit kuning langsat yang membalut tubuhnya terlihat menawan menjadikanya penari Ballet di sekolahnya. Rambutnya lurus sebahu dengan warna kecoklatan dilengkapi Mata sipitnya yang memukau ditambah Bibir tipisnya yang selalu menggoda para kaum lelaki.

Janet mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Telinga Ariel,”Apa yang akan kau lakukan agar Robin memilihku?” tanya Janet menunggu jawaban Ariel.

Ariel mengernyit,”Tenanglah tuan putri, aku akan memberimu surprise agar Robin mau berkencan denganmu. Aku akan membuat sebuah rencana dimana kau akan terkejut mendengarnya,” bisik Ariel penuh percaya diri.

Janet tersenyum mendengar jawaban Ariel yang memuaskan. Mata sipitnya berkedip, mengisyaratkan kepada Ariel bahwa Janet menyetujuinya.

“Apa yang akan kau lakukan kepada Robin? Bukankah dia begitu dingin kepada semua wanita? Tapi aku akan mendukungmu!”

“Bagaimana mungkin aku tidak bisa melakukanya. Ha-ha-ha ... lihatlah Janet, Ariel akan melakukan rencana baik untukmu ...” Janet merangkul Ariel erat.

Ariel memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan khawatir, dalam benaknya ia masih berfikir. Rencana apa sebenarnya yang akan ia lakukan kepada Robin. Ia benar-benar harus kerja keras untuk menaklukan pangeran dingin di sekolahnya.

Drrrrrttt ... drrrrtttttt ... drrrrrrrrtttt ...

Ponsel Ariel bergetar. Ariel lalu melepaskan rangkulan Janet dengan pelan. Tangan kananya meraih ponsel yang masih tergeletak di meja. Ariel membuka ponselnya dengan raut muka penasaran. Ia mendapat dua panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenalnya.

“Apa kau mengenal nomor ini? Aissshhhh .... sepertinya ini nomor baru,” tanya Ariel kepada Janet sembari memberikan ponselnya kepada Janet.

Janet menggeleng-geleng cepat namun penuh tanda tanya di dalam benaknya,”Lupakan saja Ariel, mungkin orang sinting yang melakukan itu atau kakek-kakek genit yang suka menggodamu itu, ha-ha-ha...” Ariel dan Janet tertawa terbahak-bahak.

Janet melirik arloji mungilnya. Tanganya dengan cepat meraih jas dan tas yang berceceran di kasur. Ia terburu-buru memakai sepatunya. Ariel menatap dan menertawakanya. Janet akan telat dalam pelatihan kursus menari di clubnya.

“Lakukan yang terbaik kepadaku, Ariel. Aku akan menghubungimu lagi setelah kursus menariku selesai,” ucap Janet dengan langkah tergesa-gesa dalam sekejap bayangan Janet sudah tidak terlihat oleh Ariel.

Ariel merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Mata bulatnya kembali menatap sekeliling langit-langit di kamarnaya. Ia hanya perlu berfikir bagaimana memecahkan sikap dingin Robin. Padahal sebelumnya, keduanya sangat akrab ketika mereka masih satu kelas SD.

“Apa yang harus kau lakukan Ariel? Kenapa Janet harus meminta Robin? Kenapa bukan ketua Asrama atau pelatih sepakbola yang terkenal di sekolah saja! Apakah tidak ada lelaki selain Robin? Tunggu-tunggu ... Aril, aku yakin kau bisa. Lihat saja nanti, Robin! Aku pun pernah mengenalmu dengan baik. Yah.. ketika kelas satu SD! Ha-ha-ha ...aku benar-benar bisa gila!” Ariel berbicara kepada dirinya sendiri.

**

Dua Hari Kemudian.

Aril masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia menggaruki kepalanya yang tidak gatal. Dua hari telah berlalu, Ariel belum menemukan cara yang tepat agar dirinya dapat menemui Robin. Mata bulatnya masih berputar-putar mencari cara lain dengan menghabisi Robin jika ia tak mau menjawab pertanyaan darinya.

Sementara Janet semakin sibuk dengan pelatihan kursus menarinya di Club. Wajar saja Janet bisa terpilih untuk mengisi acara malam puncak pesta hollywood dengan tarianya yang memukau. Memang, seantero sekolah sangat menggemari Janet, lelaki siapapun mendambakan Janet. Namun bagi Janet, tak ada yang istimewa selain Robin yang membuat hatinya tergetar kembali.

Ariel segera menyiapkan peralatanya untuk mewawancarai Robin. Ia mengenakan blues hitam lengan panjang dengan sedikit transparan. Celana jeans ketatnya semakin berpadu dengan apik, ditambah rambut gelombangnya sebahu diikat dengan satu ikatan agak tinggi.

“kacamata transparan sudah, o ... iya aku juga harus mengenakan penutup kepala agar Robin tidak mengenaliku,” lagi-lagi Ariel berbicara dengan dirinya sendiri.

Langkah Ariel berjalan melewati area dapur dengan sangat cepat. Tanpa sengaja dirinya menabrak wanita paruh baya didepanya.

“Aduh.. bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?” Ariel membatin.

Mama Ariel berdiri terpaku melihat penampilan anaknya yang terlihat berbeda. Wanita paruh baya itu menerka-nerka dengan perubahan putri semata wayangnya tersebut. Belum sempat berucap apa-apa Ariel sudah mengeluarkan jurus andalanya.

“Selamat pagi mamaku yang paling cantik, Ariel akan menghubungimu sore nanti. Ariel sudah ada janji kepada pelatih.” Ariel mengecup kening mamanya dan berlari kencang menuju halaman parkirnya.

“Antarkan aku menuju taman biasanya, Pak!” nada suara Ariel meninggi ketika mendapati mobil di parkirnya tidak ada.

“Sial, kenapa kunci mobilku bisa tidak ada disana? Padahal sebelumnya aku sudah menyiapkanya.”

Pak Kusno, sopir taksi langganan Ariel diam-diam tertawa kecil melihat tingkah Ariel yang kelewatan. Bagaiman Ariel bisa mendapati kuncinya, jika mobil di parkiranya sedang berada di bengkel.

“Lain kali kunci mobilnya di kasih gantungan, Non,” Pak Kusno membuka percakapan.

Ariel menatap Pak Kusno dalam-dalam,”hisssshhh ... jangan sampe telat pak, lajukan mobilnya dengan kecepatan biasanya. Aku akan menemui seseorang,” jawab Ariel singkat.

Mobil yang dikendarai Pak Kusno melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam setengah jam saja, taksi putih itu sudah sampai tepat di taman KB yang diminta Ariel.

“Terima kasih, Pak.” Ariel mengeluarkan uang puluhan dan memberikanya kepada Pak Kusno.

Dengan langkah cepat Ariel mencari sosok yang berperawakan tinggi, dengan tubuh yang jenjang dan cukup berotot. Mata bulat Ariel jelalatan mencari sosok tersebut dalam keramaian di depanya. Mata bulatnya tepat berhenti menatap sosok tersebut. Ya sosok tersebut di pojok taman, ia tengah asyik menikmati earphone di telinganya. Sepertinya ia masih akrab dengan taman masa lalu ini.

Sesaat Ariel menatap dengan tatapan penuh pesona ke arah sosok tersebut. Ah, mengapa harus kau. Aku yakin aku pasti orang yang paling bodoh di dunia ini. Ariel membuyarkan lamunan sesaat. Langkah kakinya berjalan pelan menuju Robin berada. Hati kecilnya masih saja berdebar ketika berada didekat Robin. Cepat-cepat Ariel menyembunyikanya agar Robin tidak mencurigainya.

“Apa kau tidak mempunyai kesibukan selain menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang di sini?” ucap Ariel mematikan musik di Iphone Robin.

Robin melirik sekilas menatap kehadiran seseorang disampingnya. Dengan berpenampilan seperti apapun Robin tidak bisa dikelabui oleh Ariel. Robin menarik nafas panjang, lalu iphone nya dihidupkan kembali tanpa memedulikan kedatangan Ariel.

“Hei ..!! apa kau tidak mendengarku? Hisssshh ... aku harus memberimu pelajaran karena tidak memperdulikanku sama sekali,” tantang Ariel dengan mengeraskan nada suaranya.

Tanpa berkata sedikitpun. Robin berjalan meninggalkan Ariel begitu saja di depanya.

“Dasar lelaki dingin,” ucap Ariel lirih.

Baru beberapa langkah saja Robin berjalan. Ia dengan cepat menghentikan langkahnya. Telinga Robin terasa panas mendengar Ariel tengah mengejeknya. Robin segera membalikkan tubuhnya lalu menghampiri Ariel didepanya.

Robin mematikan musik di iphone nya. Tangan kananya mengambil earphone yang masih terpasang di telinganya. Ariel masih menatap Robin dengan jantung berdebar. Robin lalu mendekatkan raut wajahnya tepat persis di depan wajah Ariel, tangan kanan Robin melepas kacamata hitam yang terpakai Ariel, tangan kiri Robin melepas penutup kepala yang dikenakan Ariel, dengan satu hentakan saja, Robin melepas ikat rambut  Ariel. Melihat tingkah Robin, Ariel tidak tinggal diam.

“Hei ...!! apa yang kau lakukan padaku! Kau benar-benar tidak sopan kepada wanita cantik sepertiku?” ucap Ariel melototi Robin di depanya.

Robin tersenyum kecil. Ia lalu membuka mulutnya,” Apa kau sedang menggodaku? Wanita ini benar-benar sedang merayuku ...”

“Apa katamu? Apa kau bisa mengulangi ucapanmu barusan?”

“Wanita ini benar-benar sedang merayuku ...” Robin mengulangi ucapanya lagi dengan nada sedikit keras.

Ariel berdiri tepat dihadapan Robin, tangan kananya melayang ingin mendarat di pipi Robin. Namun, Robin menangkisnya lalu memutar tangan Ariel. Ariel berputar dan jatuh tepat dipelukan Robin, jantung Ariel kembali berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

“Hei ..!! Apa yang kau lakukan padaku! Aku bilang lepaskan!!” teriak Ariel kepada Robin.

Orang-orang disekitar taman saling memandang ke arah Robin dan Ariel. Mereka mengira keduanya adalah pasangan yang sedang bercanda. Robin lalu tersenyum ke arah mereka sembari memeluk Ariel lebih erat lagi. Jantung Ariel masih berdegup kencang.

“Jangan pura-pura mengelabuiku lagi,” Robin membisiki Ariel pelan, lalu melepas pelukan dan berjalan meninggalkan Ariel yang masih berdiri mematung.

**

 

Robin Erlangga, lelaki berperawakan tinggi 178 cm, memiliki bentuk tubuh yang padat den berotot. Dada bidang yang sangat eksotis dengan dibalut kulit putihnya yang mulus ditambah mata nya tidak terlalu sipit membuat perawakanya sangat menawan. Pantas saja dirinya berasal dari keluarga blasteran Indo dengan Korea Selatan. Ia merupakan putra semata wayang yang sudah ditinggalkan oleh Ibunya. Namun neneknya mewarisi perusahaan di mana-mana. Baginya, semua itu tidak ada nilainya sama sekali dibanding dengan kematian seseorang yang dicintainya.

“Robin, apa kau masih tidur?” ucap wanita tua itu sembari mengetuk pintu kamar Robin.

Wanita tua itu mengambil nafas panjang. Ia tidak mendapat jawaban dari cucu putra semata wayangnya.

“Krrreeeekkk ...” wanita tua itu membuka pintu kamar Robin dengan pelan. Mata tuanya mencari sosok Robin disekeliling kamar. Langkah kakinya mengajaknya menuju kamar mandi di dalam kamar Robin. Kosong. Lagi-lagi ia terlambat membangunkan Robin. Wanita tua itu melenguh mengambil nafas panjang dan mengeluarkanya lagi. Tak lama kemudian, langkahnya pelan menuju ruang tengah. Robin sudah meninggalkan kamarnya beberapa jam yang lalu.

“Nenek, aku membawakanmu kue kering ...” ucap gadis cantik itu sembari menyerahkan sekotak kue kering kepada wanita tua itu.

Gadis cantik itu memandang sekeliling ruangan rumah wanita tua itu. Ia juga tidak melihat batang hidung Robin berkeliaran disekitar ruang tengah. Mata bulatnya menatap ke arah nenek Robin lalu menyentuh tanganya dengan sentuhan hangat. Gadis cantik itu mengerti perasaan khawatir yang sedang dirasakanya kepada cucu semata wayangnya yang selalu kelewatan.

“Sudahlah nenek, kau jangan terlalu mencemaskan Robin. Aku akan menghubunginya nanti, kau harus meminum obatmu sampai habis.” Tutur Lusi kepada nenek Robin.

Lusiana Dewi, teman semasa kecil Robin diluar negeri. Sebelum ditinggal ibunya Robin lebih banyak menghabiskan masa-masanya dengan bersekolah di luar negeri bersama Lusi.

“Bagaimana kalau kita keluar mencari udara segar,” Lusi meminta kepada wanita tua itu berjalan-jalan.

“Terima kasih, Lusi. Kau memang anak yang baik. Kapan kau kembali ke Indonesia?” tanya wanita tua itu kepada Lusi.

Lusi tersenyum kecil. Senyum manisnya begitu menawan dengan bibir mungil yang tipis dan menggiurkan para kaum lelaki.

“Dua hari yang lalu, nenek. Aku membuat kejutan untuk Robin, Ibu memindahkanku untuk bersekolah di Indonesia.”

“Aku akan meminta Robin untuk mengantarmu ke sekolahan besok. Kau bisa satu sekolahan lagi bersama Robin,”

Lusi tersenyum kecil. Ia memang meminta Ibunya sendiri agar bertemu Robin di Indonesia. Sebenarnya, dengan berat hati ibu Lusi mengbulkan permintaan putrinya. Karena Lusi terus memojokkan ibunya, akhirnya dengan perasaan terpaksa ibu Lusi mengijinkanya.

“Bagaimana dengan kabar ibumu disana, Lusi? Bukankah saat ini Ibumu sedang sibuk melanjutkan proyek barunya?”

“Ibu tidak ikut bersamaku ke Indonesia. Hanya saja, sebulan sekali ia akan mengunjungiku atau aku yang berkunjung kesana,” jawab Lusi singkat.

“Syukurlah, ku harap kau betah di Indonesia. Jangan sungkan untuk mengunjungi rumah ini,” jawab wanita tua itu seraya tersenyum simpul.

“Nenek? Bolehkah aku melihat kamar Robin? Sepertinya aku sangat penasaran dengan kamar barunya.”

Wanita tua itu merogoh sakunya lalu mengambil gantungan beberapa kunci yang sangat banyak, di antaranya salah satu kunci cadangan kamar Robin,”Terimalah kunci ini, kau pun boleh mengunjungi kamar Robin,” ucap wanita itu sembari menyerahkan gantungan kunci kepada Lusi.

Lusi mengangguk pelan dan langkahnya dipercepat menaikki anak tangga tak sabar menuju kamar kediaman Robin.

“Kamar ini tidak berubah sama sekali, tatananya juga masih sama persis ketika di luar negeri. Robin memang tidak melupakan kenangan indah di sana bersamaku,” ucap Lusi sembari merebahkan badanya di kasur empuk Robin yang mewah.

Sudah dua hari yang lalu Lusi baru saja sampai di Indonesia. Perjalanan panjang yang ditempuh dari Korea cukup melelahkan kondisi tubuhnya, saking lelahnya wanita manis itu tidak menyadari dirinya tertidur pulas di kamar Robin.

**

 

Robin memicu mobilnya dengan kecepatan melebihi rata-rata. Pertemuan dengan Alex benar-benar membuat darahnya naik kembali. Beberapa saat fikiran Robin melayang, kepalanya terasa pening dan seperti berputar tujuh keililing. Ia kembali menerka-nerka apa yang barusan terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk saja.

“Apa kau masih mengenaliku?” ucap lelaki bermata sipit kepada Robin.

Robin mencari sumber suara tersebut muncul mengganggu gendang telinganya, sekilas ia memang sangat tidak asing dengan suara yang cukup jelas dikenalnya. Robin membalikkan badan dengan satu hentakan. Ia benar-benar tidak mempercayai lelaki sipit itu satu kelas lagi denganya. Alex menatap Robin dengan tatapan sebuah kebencian mendalam, mata sipitnya seakan-akan mengisyaratkan kepada Robin bahwa ia akan terus mengejarnya.

“Kenapa dia bisa kembali ke Indonesia? Dia memang tidak akan pernah hidup tenang jika tidak bisa mengganggu hidupku,” Robin bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Tepat berada di parkir rumah mewahnya, Robin dengan langkah tergesa-gesa menaiki anak tangga dengan rasa tak sabar untuk menemui neneknya. Sepi. Semua keadaan rumah terlihat sangat sepi, bahkan suara serangga rumah pun tidak terdengar sekalipun. Sunyi. Suasana masih saja terasa sunyi di dalam rumah yang hanya ditinggali seorang wanita tua dan cucu satu-satunya. Hening. Keheningan lah yang sering dirasakan keduanya, mereka kesepian dengan tumpukan harta yang menyelimuti bahagia diluar sahaja. Langkah Robin tiba-tiba terhenti seketika mata nya tertuju kepada gadis cantik yang tengah mengusik kamarnya.

“Biarkan Lusi beristirahat sejenak di kamarmu, sudah seharian ia menunggu kedatanganmu,” tutur wanita tua itu mengikuti langkah Robin dibelakangnya.

Robin dengan cepat mengelak,”Nenek ... apa tidak bahaya memasukkan gadis cantik dikamarku?” Robin bergurau kepada nenek kesayanganya.

Wanita itu diam saja, namun dalam hati ia tersenyum kecil mendengar gurauan cucu semata wayangnya yang begitu dikasihinya.

“Baiklah, kalau begitu aku akan tidur bersama gadis cantik itu,” lagi-lagi Robin menggetarkan hati wanita tua itu.

Wanita tua itu tidak bisa lagi menyembunyikan tawa kecilnya. Senyum tulus nya mengembang begitu saja didepan Robin. Tawa lepas. Keduanya saling pandang dengan tertawa lepas.

“Apa itu kau, Robin? Suaramu benar-benar mengganggu tidur nyenyakku, kapan kau pulang dari perjalanan panjangmu, nenek bahkan sudah menunggumu seharian,” ucap Lusi membelalakkan kedua matanya untuk melihat Robin.

“Hei ... kapan kau muncul dihadapanku lagi? Bukankah dulu kau masih sangat lugu ketika di luar negeri, ku rasa ada yang salah dengan makanan barumu di Indonesia ...” Robin mulai meracau kepada Lusi.

“Hisssshh ... dasar anak-anak ini, berbincanglah kalian berdua dengan baik. Nenek sudah menyiapkan makan malam. Robin, antarkan Lusi pulang setelah kalian berdua selesai makan malam,” potong wanita tua itu sembari berjalan menuju ruang makan.

Robin menarik lengan lusi dengan satu hentakan saja, semua masih terlihat sama ketika keduanya berada di luar  negeri,”Heii? Gadis manis ... cepatlah bangun atau aku tidak akan memberimu makan.”

Lusi tidak berkata sepatah katapun, lenganya ditinggikan dengan muka masih mengantuk. Lusi beberapa saat menguap, ia berharap lelaki dingin itu menggendongnya,”Kita sekarang tidak berada di luar negeri, aku tidak akan menggendongmu anak manja? Ha-ha-ha”

Ketiganya lalu menikmati hidangan makan malam, mereka berbincang-bincang mengenai kabar dan kesibukan masing-masing, tanpa terasa wanita tua itu benar-benar merasakan bahagia ketika melihat Robin tertawa terbahak-bahak karena lelucon dari gadis manis itu.

“Kau juga harus mengantarkanku ke sekolahanmu, besok. Aku akan satu sekolahan denganmu lagi, dan berita bagusnya ... kita akan satu kelas!” tutur Lusi dengan riangnya memberitahu Robin setelah mobilnya berhenti tepat didepan rumah luas Lusi.

Jantung Robin seperti dicambuk sambaran petir dari langit, baru saja ia mendapat kabar bahwa Alex satu kelas denganya, bahkan Lusi juga akan satu kelas denganya termasuk dengan Alex. Lelaki dingin itu memang senang bertemu Lusi kembali, hanya saja ia mengira gadis manis itu hanya menghabiskan waktunya untuk berlibur di Indonesia. Salah. Ternyata keduanya akan semakin terlibat di titik kenyamanan Robin.

Robin masih terngiang-ngiang dengan ucapan Lusi barusan. Ia bertanya-tanya berulang kali kepada dirinya sendiri memastikan bahwa hal-hal yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak sengaja mengganggu tidur nyenyaknya. Robin teringat sesuatu, kedua tanganya merogoh saku seperti tengah mencari benda yang dinilai sangat berharga. Ikat rambut warna merah. Robin baru saja mengingatnya jika ikat rambut milik gadis ditaman belum dikembalikanya.

Tiba-tiba ia tersenyum kecil mengingat bagaimana ekspressi gadis cantik yang mencoba merayunya ditaman, Robin masih jelas mengingatnya bagaimana gadis cantik itu terlihat ketakutan. Bukan hanya ketakutan, terlihat jelas sekali jika gadis cantik itu menyembunyikan degup jantungnya yang berdebar.

Lagi-lagi Robin tertawa kecil mengingat Ariel. Ia tidak bisa menerka apa yang sebenarnya diinginkan gadis tersebut. Robin merogoh sakunya kembali, ia mencari sesuatu. Sebuah ponsel lalu ia memaksakan ibu jarinya untuk menekan tombol “CALL” kepada nomor “Ariel” yang baru saja didapatnya dari Michael.

Entah apalah yang sedang terjadi. Pikiran ini terus saja terarah kepadamu. Jantungku memang tidak berdebar seperti degup jantungmu yang hampir meledak. Namun tetap saja terasa aneh, bukan aneh. Sangat tidak asing yang benar. Ya hampir saja aku ingin membunuhmu jika kau menggodaku lagi. Tapi hati ini malah tergoda bukan perasaan, terenyuh untuk memberimu peringatan. Bukan semacam ancaman, kau sendiri yang akan mengetahuinya.

**

Ponsel Ariel kembali bergetar. Ariel masih mengabaikan panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Pikiranya hanya berfokus kepada lelaki dingin yang diincarnya untuk Janet.

“Haaah.. kenapa aku malah memikirkan lelaki dingin itu? Ini tidak boleh terjadi, aku harus membuat rencana untuk Janet. Tapi, apakah Robin sama sekali tidak meningatku. Kenapa aku tidak berpikir bahwa Robin terbentur sesuatu lalu dirinya kehilangan ingatan masa kecilnya, atau saja Robin salah minum obat dan overdosis, itu bisa saja terjadi pada siapapun.” Ariel berbincang-bincang kepada dirinya sendiri.

“Ariel ... bisakah kau membantuku berdiri. Kakiku terpelintir ketika aku berlari mengejarmu dari belakang,” ucap Robin kepada Ariel seraya menunjukkan luka darah yang menempel di kakinya.

Ariel mengulurkan tangan mungilnya kepada Robin. Ia lalu memapah Robin agar dapat sedikit berjalan. Gadis kecil itu segera melepas rangkulan Ariel seketika ia sampai di depan rumah Robin.

“Robin? Apa yang terjadi pada kakimu ... kenapa luka darahnya sangat banyak? Apa kau berkelahi lagi? Dengarkan ibu, kali ini ibu akan memindahkanmu ke luar negeri. Kau bisa belajar di sana,” tutur wanita paruh baya itu kepada Robin.

“Maaf bibi, saya harus segera pulang ke rumah. Robin sama sekali tidak berkelahi di kelasnya, kakinya terkilir ketika bermain sepak bola di lapangan sekolah,” jawab gadis kecil itu kepada ibu Robin.

Wanita paruh baya itu menatap Ariel, lalu ia mendekatinya,”Terima kasih, Ariel. Aku berhutang budi padamu.” Ariel menunduk pelan. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju rumahnya. Namun Robin mencegahnya, Robin mengambil foto didalam tasnya. Foto itu berisi foto dirinya dan keluarga lengkapnya, Robin memberikanya kepada Ariel.

“Hei ... simpanlah foto ini sampai pada akhirnya aku bisa menemukanmu,” Ariel mengangguk pelan lalu berlari meninggalkan Robin dan wanita paruh baya itu yang dari kejauhan masih menatapnya.

Dalam keheningan, aku bermimpi buruk lagi. Waktu memang memutar menit, hingga detik lebih mendekat. Disaat aku membutuhkanmu, kau harusnya terbentur sesuatu agar dapat mengingatku lagi. Seperti mengingatku dahulu, dikala waktu begitu jauh sampai hanya bola matamu yang masih tersimpan di otak ku. Ariel tertidur setelah menatap sebuah foto yang digenggamnya. Foto sekitar Delapan belas tahun berlalu.

Bersambung ...

 

 

Syariiefha Sya

Hidup adalah anugrah. lalu syukurilah nikmat hidupmu!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.