Lemas tubuh Karmani mendengar kabar itu. Seno, anaknya, telah merusakkan sepeda Terbang milik Ardian, anak Sardali. Ardian menuntut agar sepedanya yang rusak diganti dengan yang baru. Harga sepeda Terbang sangat mahal dan Karmani tak punya uang. Karmani menemui Sardali dan menawarkan diri untuk bekerja pada tuan tanah itu selama satu bulan tanpa bayaran.

“Seperti masa lalu, ya, Man?” kata Sardali terkekeh.

“Ya, seperti masa lalu,” sahut Karmani.

Masa lalu yang dimaksud Sardali adalah juga tentang sepeda Terbang. Semasa kecil Karmani dan Sardali bersahabat. Karmani sering meminjam sepeda Sardali. Suatu hari Sardali mendapat hadiah ulang tahun berupa sepeda Terbang dari ayahnya. Sardali memamerkan sepeda barunya pada Karmani.

“Boleh aku pinjam?” tanya Karmani kecil.

“Silakan,” sahut Sardali kecil.

Sepeda Terbang itu ringan sekali dan lincah untuk bermanuver. Perlu penyesuaian keterampilan untuk mengendalikannya dan Karmani kecil gagal melakukannya. Karmani kecil menabrak pohon asam, ia dan sepeda berharga mahal itu nyungsep di parit. Sepeda Terbang itu rusak; setang bengkok dan beberapa bagiannya lecet.

“Aduh, bagaimana ini? Ayahku tentu akan marah,” kata Sardali kecil, wajahnya pucat dan matanya merah hampir menangis.

Karmani kecil meringis memegangi kakinya yang lecet. “Bawa ke rumahku. Mungkin ayahku bisa memperbaikinya,” kata Karmani kecil.

Kunawi, ayah Karmani, pucat pula wajahnya.

“Ini sepeda Terbang, sepeda mahal. Tak ada bengkel sepeda di kampung sini yang bisa memperbaikinya atau mengganti onderdilnya,” kata Kunawi.

Kepada Sardali, Kunawi berkata, “Kau pulanglah. Ceritakan pada ayahmu apa yang terjadi, tak perlu bohong. Biarkan sepedamu di sini. Nanti malam aku akan ke rumahmu, menemui ayahmu.”

Malam, bakda isya, Karmani melihat ayah ke luar rumah membawa sepeda Terbang rusak itu. Ketika pulang wajah ayah tampak lelah. Tetapi ketika Karmani bertanya, ayah tersenyum dan berkata, “Semua sudah beres. Kita tidak perlu membawa sepeda Terbang itu ke bengkel. Kau istirahatlah. Tidur. Biar kau cepat sembuh.”

Belakangan Karmani tahu dari ibu bahwa, ayah bekerja pada ayah Sardali selama satu bulan tanpa bayaran atau imbalan, sebagai tebusan karena Karmani telah merusakkan sepeda Terbang itu.

Suatu malam Karmani terjaga dari tidur, duduk di sudut ranjang dan menangis. Ayah muncul dan bertanya, “Ada apa, Nak?”

“Maafkan saya, Ayah. Karmani salah.”

Ayah memeluk Karmani.

“Tidak, Nak. Kau tidak salah. Ayah yang salah. Seharusnya ayah membelikanmu sepeda, meski sepeda biasa, bukan sepeda Terbang. Ayah janji akan membelikanmu sepeda.”

Tetapi sampai ayah meninggal, janji itu tak pernah terwujud.

***

Sardali tertawa ketika Karmani untuk kedua kali mengatakan siap bekerja padanya selama satu bulan tanpa bayaran atau imbalan.

“Lalu keluargamu mau makan apa? Apa kata orang kalau aku tidak membayarmu? Begini saja, kau bekerja padaku dan kau akan mendapat bayaran sesuai pasaran,” kata Sardali.

“Tapi...”

“Sudah, tak perlu tapi-tapian. Ini zaman modern, Man. Semua kerjaan harus pakai bayaran. Besok kau mulai kerja. Kau garap sawahku yang di selatan sungai.”

“Setelah sebulan, utangku lunas? Aku tak perlu mengganti sepeda anakmu?” tanya Karmani.

“Ya!”

“Terima kasih, Dali. Terima kasih,” Karmani mencium tangan Sardali berkali-kali.

***

Tengah malam, Karmani mendengar suara isak dari kamar Seno. Karmani melihat Seno duduk di sudut ranjang, sesenggukan.

“Ada apa, Nak?”

“Maafkan Seno, Ayah. Seno salah.”

Karmani memeluk Seno.

“Tidak, Nak. Kau tidak salah. Ayah yang salah. Seharusnya ayah membelikanmu sepeda, meski sepeda biasa, bukan sepeda Terbang. Ayah janji akan membelikanmu sepeda.”

“Benar, Ayah? Ayah akan membelikan Seno sepeda?” mata anak 10 tahun itu membulat penuh harap.

Karmani tertegun, lalu tersenyum.

“Ya, Nak. Ayah janji.”

Kembali ke kamar, Karmani mendapat pertanyaan dari Sarmini, istrinya.

“Membelikan sepeda untuk Seno? Uang dari mana?”

“Dari Allah,” jawab Karmani sekenanya, lalu membaringkan tubuh di ranjang sampai akhirnya tertidur dengan susah payah.

***

Karmani hampir lupa, tetapi rupanya Sarmini telah mencatat dalam ingatan dengan sangat baik bahwa, hari ini tepat satu bulan Karmani bekerja pada Sardali.  Usai mandi, salat asar di rumah, Karmani mematut diri di depan cermin. Karmani mengenakan setelan kemeja batik coklat dan celana panjang hitam dan memastikan penampilannya sangat layak untuk bertamu ke rumah Sardali.

“Aku masih kepikiran janjimu pada Seno, Pak,” kata Sarmini sembari membantu membetulkan kerah kemeja Karmani. “Uang dari mana untuk beli sepeda?”

“Jangan pikirkan itu, Bu. Biarkan Tuhan yang mengatur. Semoga Tuhan mengabulkan janjiku pada Seno,” jawab Karmani tersenyum dan menatap lembut Sarmini. Sarmini mendesah, tetapi kemudian tersenyum pula.

“Amin,” kata Sarmini. “Sudah rapi. Berangkatlah. Jangan lupa berdoa.”

Karmani berjalan sekira satu kilometer menuju rumah Sardali. Karmani melihat Sardali di halaman rumah sedang mengelus-elus sepeda BMX warna biru. Sepeda Terbang!

“Kebetulan kau datang, Man,” kata Sardali tersenyum melihat kehadiran Karmani. “Aku mau ke rumahmu.”

“Ke rumahku? Untuk apa?” tanya Karmani.

Sardali menuntun sepeda Terbang itu ke arah Karmani.

“Untuk anakmu,” kata Sardali.

“Kau bercanda, Dali?”

“Tidak, Man. Sepeda ini untuk anakmu.”

“Sepada baru ini?”

“Bukan,” sahut Sardali. “Ini sepeda yang rusak itu. Aku membawanya ke bengkel di kota, sekalian beli sepeda baru lagi untuk anakku. Sekarang, sepeda ini untuk anakmu.”

“Jangan bercanda, Dali. Sepeda Terbang ini mahal.”

“Tidak, Man. Aku tidak bercanda. Anggaplah ini sebagai tanda terima kasihku karena dulu kau sering membuatkan PR matematika untukku. Ini, terimalah. Berikan pada anakmu.”

Karmani berjongkok, mengelus-elus sepeda itu. Di rangka sepeda, ia menatap lekat-lekat logo sepasang sayap mengembang dan tulisan: Terbang. Itu merek terkenal, sudah ada sejak zaman Karmani masih kecil. Hanya anak orang kaya yang memiliki sepeda bergengsi itu. Dulu, Karmani ingin sekali memiliki sepeda Terbang yang ringan dikayuh, enak buat bermanuver itu.

Karmani berdiri, matanya berkaca-kaca, lalu memeluk Sardali.

“Terima kasih, Dali. Terima kasih.”

“Pulanglah dan bawa sepeda ini,” kata Sardali melepas pelukan Karmani. ”Sampaikan pula terima kasihku pada Seno, karena dia sering membuatkan PR matematika untuk anakku.”

“Sekali lagi terima kasih, Dali. Terima kasih,” kata Karmani, lalu pulang menuntun sepeda Terbang.

Di perjalanan, Karmani berhenti sejenak. Memandang sepeda Terbang dengan sorot mata penuh rindu.

“Alhamudillah. Terima kasih, ya Allah. Kau telah berikan sepeda Terbang padaku,” Karmani mengucap syukur, menengadah ke langit.

Karmani menaiki sepeda itu, lalu mengayuhnya penuh semangat di jalan beraspal. Pada jalan menurun, Karmani dan sepeda itu melaju kencang seperti terbang. Karmani tertawa bahagia.

“Cihui! Aku terbang. Aku terbaaaangg....” 

***SELESAI***

 

Sulistiyo Suparno

Senang menulis cerpen, karena tidak bisa melukis.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.