Pagi-pagi sekali aku sudah melihat ke arah luar jendela. Hampir setiap pagi selalu begini, merasakan dinginnya kabut pagi yang menghampar ke permukaan bumi. Sejak aku masih muda sampai setua ini, aku tak pernah melewatkan pagi. Sebagaimana orang-orang terdahulu yang selalu bangun lebih awal. Kuajarkan pula kepada penerusku; pagi bukan sekedar pagi yang biasa. Pagi adalah awal yang sangat menentukan. 

Aku tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucuku. Mereka adalah pemanis hidupku yang benar-benar nyata. Aku bahagia karena sesungguhnya mereka mampu merasakan keberadaanku, begitu pula aku yang membutuhkan mereka. Semakin hari badanku semakin rapuh, maklumlah kekuatanku untuk bergerak lebih lama tidak seperti dulu lagi. Beberapa tahun lagi akan semakin rapuh, atau mungkin sebentar lagi namaku dikenang.

Tak mudah bagiku untuk mengingat hal yang detil-detil. Sudah seharusnya aku diingatkan mereka kembali jika memang mereka menemuiku di tempat ini. Untuk beberapa waktu saja yang kuingat, tentang istri yang telah meninggalkanku lebih dulu, juga tentang perjuangan menyekolahkan anak-anakku agar mereka berhasil. Dua kisah klasik itu seakan bercerita lagi dan memutar di kepalaku. Hampir setiap hari. 

Ketika aku berbaring di atas kasur sembari menatap ke luar jendela, seseorang mengetuk pintu. Siapa kupikir, setelah pintu itu dibuka oleh si pengetuk, aku benar-benar tak mengenal wajahnya. Namanya pun aku tak pernah tahu. Tapi ia didampingi oleh putraku yang nomor dua. Mungkin orang itu sengaja ingin bertemu denganku. Beruntung pikiranku masih sehat, tidak sempat berpikir yang aneh-aneh.

Dia memanggilku dengan sebutan mbah, panggilan yang begitu sederhana dan membumi. Lama-lama ingin mengeluarkan setetes air mata saja. Aku bahagia, ada seseorang yang ingin sekadar bertemu. Badannya sedang, tidak tinggi juga tidak pendek. Mengenakan jaket dan jins. Ia memelukku dari samping dan langsung memulai pembicaraan.

"Mbah, masih ingat aku?"

Aku hanya diam memandang wajahnya. Jelas aku tidak tahu betul. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri, bahagia didatangi orang lain meskipun aku tak ingat siapa dia. Aku sudah terlalu tua.

"Duduklah, Nak", pintaku kepadanya. Ia kemudian duduk berseberangan di depanku. Ia membawa sekantong yang isinya aku tak tahu. Lalu ia memberi tahu.

"Ini buah-buahan, mbah. Sengaja aku beli buat mbah, semoga mbah suka dengan buahnya", ujar anak itu. Begitu halus tutur katanya. Gerak tubuhnya seakan menghormatiku.

"Aku anak Pak Ramli, mbah. Pak Ramli yang dulu pernah nengok mbah di rumah sakit."

Kata-katanya memaksaku untuk mengingat kembali. Aku benar-benar lupa. Sampai akhirnya anak itu melanjutkan obrolan lagi.

"Pak Ramli, teman istrinya mbah."

Seketika memori itu muncul lagi, ingatan tentang istriku. Ya, dulu istriku pernah mengaku memiliki teman akrab laki-laki. Rupanya Ramli namanya. Sungguh, aku benar-benar lupa. Dan ingatan itu seperti gambar bergerak yang terlintas di kepala. Setelah aku menua seperti ini aku selalu mengunci diri dari lingkungan. 

"Ya, suamiku pernah mengaku soal Ramli."

"Betul, mbah", lanjut anak itu lagi, "Mbah, bukankah anak-anakmu yang mengurusimu? Nampaknya mereka sibuk dengan pekerjaan."

Pertanyaan itu tiba-tiba membuat hati menggelegar. Terus terang aku menjawab, "Hanya putraku yang nomor satu yang selalu menemaniku meskipun dari jauh. Selebihnya bila tak ada pekerjaan mereka pasti ke sini. Ini ruang pribadiku, dan tak banyak orang yang mampir ke sini".

Ia menyimak saja daritadi. Aku lanjutkan kembali, "Siapa namamu, Nak?"

"Siti, mbah."

"Sekarang aku tak punya siapa-siapa selain anak dan cucuku. Tugasku hanya mendoakan mereka. Aku mengikuti apa yang mereka mau. Aku bersyukur mereka tidak meninggalkanku yang sudah tua dan renta ini. Aku menyayangi mereka, dan tak ada satu pun yang sengaja kubiarkan."

Anak itu mengehela napas. Ada hasrat ingin mengatakan sesuatu yang sepertinya lebih penting. Kemudian ia menggenggam erat tanganku dan berkata,

"Mbah, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa itu, Nak?"

"Sahabat karibmu, temanmu yang dulu pernah menolongmu, sekarang sudah berhadapan dengan Sang Pencipta."

"Apa maksudmu, Nak?"

"Ramli, Mbah. Bapak Ramli.."

"Ya Allah..."

Air mata mbah keluar, dan tiba-tiba ia merindukan sosok Ramli yang selalu dikatakan oleh anak itu. Siti memeluk si mbah dengan perasaan tak kuat hati...

"Mbah, istirahatlah. Tak bisa aku melihatmu yang sudah tua seperti ini menangis..."

Mbah dibaringkan tubuhnya oleh Siti. Dan semua hal yang menyedihkan itu segera dilupakannya setelah haus meluapkan rasa yang begitu dalam. 

 

 

 

Rahardian Shandy

Fiction addict. Writer freelance, Cerpenis, Content Writer and become to novelist!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.