“Kamu siswa baru di sini juga?” Tanya gadis cantik itu, ramah.

Aku hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaannya, terpana minder mengagumi kecantikan bidadari yang turun dari sedan ini.

“Namaku Keyla,” lanjutnya memperkenalkan diri. Diulurkannya tangan putih mulusnya kepadaku.

Lagi-lagi aku hanya bisa terlongo, mendadak merasa seperti anak itik buruk rupa. Minderku ini seminder-mindernya minder. Dia sangat cantik, pancaran kemilaunya benar-benar membungkam kepercayaan diriku. Dan dilihat dari sedan yang barusan mengantarnya, dapat dipastikan kalau dia berasal dari keluarga kebanjiran harta.

“Siapa namamu?” Tanyanya dengan suaranya yang merdu. Aku memang baru mampu menyambut uluran tangannya saja, belum sanggup memperkenalkan diri.

“Reyna,” jawabku canggung.

“Reyna? Namamu bagus ya,” pujinya dengan mata berbinar.

Ah, gadis itu pintar berbasa-basi rupanya. Mungkin dia mengerti betapa mindernya aku atas kontrasnya keadaan kami, lalu dihiburnya aku dengan lelucon itu agar merasa memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Padahal, apalah arti sebuah nama?

“Bagusan nama Keyla,” jawabku tersenyum hambar.

Entah untuk yang keberapa kalinya, dipamerkannya lagi keindahan senyum bidadarinya. Giginya yang putih nampak berderet rapi. Bibir ranumnya merekah memesona.

Aku sudah siap-siap mundur dari pertunjukan kontras itu, tak sanggup berjalan di sisinya di hadapan banyak pasang mata yang terpaku dan terpukau mengaguminya. Meski pun, yeah, tak akan ada yang memerhatikan keberadaanku. Tapi justru karena itu, kupelankan langkahku diam-diam, berharap dia segera melupakanku setelah berbaur dengan gerombolan berseragam putih-biru berpita warna-warni yang lain. Dengan begitu aku tak akan terancam merasa jelek sepanjang waktu.

“Reyna, ayo!”

Hm, belum berhasil. Dia masih mengingatku, menghentikan langkah dan menungguku. Dan ternyata hingga pekan demi pekan berlalu pun, aku tetap tak berhasil menjauhinya.

Keyla bukan saja cantik, bukan hanya indah, bukan cuma anak orang kaya, tapi juga baik hati luar biasa. Tak pernah ada sedikit pun rasa tinggi hati kutangkap dari sikap dan tutur katanya. Dia ramah, welcome terhadap siapa saja, tidak membeda-bedakan teman, peduli pada sekitarnya, santun dan tentu saja murah hati. Dan karena kebetulan kami satu kelas, dia memilihku jadi teman semejanya. Aku tak bisa menolaknya. Jadi terpaksa kupendam dalam-dalam sejuta minderku.

Semakin aku mengenalnya, semakin terlihat olehku betapa nyaris sempurnanya dia. Keyla sungguh-sungguh seorang bidadari, mewakili semua hal yang selama ini kukhayalkan dari sosok bidadari. Jika ada satu-dua kekurangan, itu hanyalah sifat penakut dan fisiknya yang rentan sakit saja. Wajar, sudah lumrah jika sesuatu yang mahal, indah, cantik, bening dan mulus itu fragile.

Justru itulah yang memberi arti dan harga diri pada seorang lelaki yang kelak mendampinginya; sebagai pengayom, pelindung, sandaran dan andalannya. Tanpa itu mungkin lelaki tak akan merasa ada harganya di mata seorang Keyla yang sudah memiliki segalanya.

“Rein, jangan bilang-bilang tentang keadaan orang tuaku ya!” Pesannya suatu hari saat aku mengantarnya pulang pasca pingsan di sekolah pada jam olahraga.

Dia pasti khawatir melihat ekspresi syokku saat mendapati kemegahan rumahnya. Rumah itu besar dan seindah kastil negri dongeng. Baru sekarang aku tahu bahwa di tempat yang dipagari tembok tinggi dan terlindung jajaran rapat pohon bambu cina itu, yang awalnya kukira adalah kawasan pergudangan atau industri ilegal, di baliknya rupanya tersembunyi sebuah istana milik seseorang yang kemudian menjadi temanku.

Aku sempat mengobrol sejenak dengan sopir keluarga Keyla, hingga akhirnya aku tahu bahwa di tubuh Keyla itu mengalir campuran banyak darah: Tionghoa, Belanda, Arab dan Jawa. Pantas saja fisiknya kontras dengan penduduk setempat. Untuk ukuran masyarakat kami yang mengukur kecantikan berstandar pada fisik ras bangsa barat, rupa seperti Keyla itu tergolong sangat cantik.

Dari postur tubuh, dia memang tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 165 cm saja, tapi sangat proporsional dengan perawakannya yang semampai. Rambutnya kecoklatan, matanya bulat jernih senada dengan warna rambutnya, hidungnya mancung bangir, bentuk wajahnya tirus oval, tulang pipinya tinggi dan bibirnya mungil indah kemerahan, kontras dengan kulitnya yang nyaris seputih susu. Pokoknya dia lebih indah dari patung dewi. Cowok mana yang tidak akan terpesona memandangnya?

Ayah Keyla adalah pengusaha batik yang cabang perusahaannya ada di mana-mana, sedangkan ibunya mengelola beberapa butik di kota-kota besar. Sebenarnya mudah saja bagi Keyla jika dia menghendaki sebuah sekolah swasta mahal bertaraf internasional di ibukota sebagai tempatnya menimba ilmu, bahkan di luar negeri sekali pun. Tapi kenapa dia memilih sebuah SMA negeri yang biasa-biasa saja di kota kecil seperti ini?

Bersahaja, begitulah karakter Keyla. Penampilannya tidak mencolok. Pulang pergi naik angkutan umum, uang saku tidak berlebihan, juga tak pernah membawa benda-benda mahal ke sekolah.

Berawal dari tempat duduk yang berdekatan, kami berenam segera akrab. Pada akhirnya Syifa, Fatia, Maya dan Febri juga tahu kalau Keyla berasal dari kelas sosial yang berbeda dengan kami.

“Kenapa harus sembunyi dari fakta sih? Dari tampangmu aja udah kelihatan kalau kamu orang kaya. Kalau nggak mau kelihatan mencolok, kenapa sekolahnya bukan di sekolahan elit internasional aja?” Sungut Fatia yang merasa berat harus terus-menerus merahasiakan kelas sosial Keyla.

“Di sini aku banyak belajar dan bersyukur. Dan lagi, ternyata aku lebih nyaman sama kalian. Memang di sinilah sebenernya tempatku.”

Ah, Keyla Anastasia dengan kepribadiannya itu, siapa sih yang tidak menyukainya? Bahkan aku dapat menerima kenyataan bahwa April Dwi Hamdani, senior yang kusukai diam-diam, menggilai teman semejaku itu juga. Aku memaklumi dan sadar diri. Aku cemburu, tapi tidak lantas membencinya.

Awalnya Keyla tidak menyadari cemburuku. Tapi semakin lama aku semakin tak tahan berdiam diri di sebelahnya saat April mendekatinya. Berbagai alasan kerap kukarang untuk menyingkir. Lama-lama agaknya dia mengerti. Hingga suatu hari pada jam pelajaran yang tidak dihadiri guru, tiba-tiba dia membuat satu pernyataan yang membuatku bingung : “Aku nggak suka sama April, Rein.”

Sejenak aku mengernyitkan dahi, namun setelah paham arah pembicaraannya, segera kupasang lagak pura-pura tak peduli. “Kenapa kamu laporan sama aku? Biasanya kalau habis nolak cowok kamu anteng aja.”

“Karena kamu suka sama April.”

Deg!

“Sok tahu!” Desisku berusaha menutupi gugup yang tiba-tiba menyerang.

“Aku tahu.”

“Tahu dari mana?”

“Sikapmu,” jawabnya yakin. “Sikapmu kalau April lagi deketin aku.”

Aku terdiam. Yah, sepertinya aku tak bisa lagi bersembunyi. Pun tidak segera dapat kutemukan kata-kata yang tepat untuk menyangkalnya.

“Aku nggak suka sama April, Rein. Kamu nggak perlu khawatir,"sekali lagi dia menegaskan.

Tapi April menyukaimu. Apanya yang tak perlu kukhawatirkan?

“Perlu kubilangin ke April, Rein?”

“Bilangin apa?” Tkaget.

“Soal perasaanmu.”

“Nggak!” Tolakku serta-merta.

“Tapi kan...”

“Pokoknya enggak, titik. Kalau kamu temenku, kamu harus janji untuk rahasiain ini. Dari si-a-pa-pun!” Tegasku. Kemudian segera kutinggalkan dia ke perpustakaan dengan perasaan yang tak kunjung pulih dari syok. Syok karena rahasiaku ketahuan.

Sekembalinya aku dari perpustakaan kurang lebih satu jam kemudian, Keyla masih berusaha mengajakku bicara soal itu.

“Nggak Key, nggak! Pokoknya kamu harus janji nggak akan bocorin ini ke siapa pun. Nggak ada tawar-menawar.” jawabku tegas.

“Kenapa sih? Apa salahnya April tau perasaan kamu?”

“Apa gunanya? Jelas-jelas dia sukanya sama kamu.”

“Seenggaknya dia jadi tau kalau ada cewek lain yang tulus suka sama dia. Mungkin lambat laun dia akan belajar menyukai dan nerima kamu.”

“Belajar? Pikirmu ini matematika? Sekali kubilang enggak, ya pokoknya enggak. Awas ya kalau kamu berani ngasih tau soal ini ke dia atau pun orang lain!”

Sulit, tapi setelah aku mulai ngambek, pada akhirnya dia berjanji juga walau ogah-ogahan.

Sayangnya rahasiaku sepertinya tidak tersimpan sempurna, entah bocor dari celah mana. Beberapa minggu berselang segalanya mulai berjalan tak semestinya. Jika kebetulan aku dan Keyla bertemu April di luar jam pelajaran, Keyla yang awalnya menjaga jarak jadi terlihat aktif, seperti ingin menahan April lebih lama. Namun reaksi April justru sebaliknya. Dia yang biasanya tampak ingin menahan Keyla, justru mulai mencari berbagai alasan untuk dapat segera kabur. Aku jadi was-was dibuatnya. Mungkinkah April sudah tahu perasaanku? Tahu dari mana?

Aku sempat ingin menanyakan itu pada Keyla, tapi kemudian aku sadar tak seharusnya aku mencurigainya. Dia terlalu baik, mustahil orang sepertinya bisa begitu mudah ingkar janji. Maka aku mengabaikan saja semua itu seolah aku tidak merasa aneh dengan apa pun.

Hari-hari berlalu, sikap April semakin mencurigakan. Dia yang semula tak pernah memusingkan kehadiranku itu lama-lama bahkan ikut menghindari Keyla secara personal. Hal itu mengganggu pikiranku. Apa sebenarnya yang telah dilakukan Keyla padanya? Mendesaknya? Mengejar-ngejarnya seperti sales yang ingin menawarkan produk dengan cara-cara memaksa? Ah, aku jadi berprasangka buruk terhadap sahabat baikku. Setelah kupertimbangkan lebih jauh, aku merasa harus mencari waktu yang tepat untuk bicara berdua saja dengannya. Hanya berdua; tanpa Maya, Syifa, Febri dan Fatia.

Belum sempat momen itu kutemukan, OSIS sudah keburu menetapkan tanggal untuk acara kemah yang wajib diikuti semua siswa tahun pertama. Waktunya nyaris mendadak, hanya seminggu berselang sejak pengumuman itu. Kami kalang kabut disibukkan dengan berbagai persiapan. Dan karena pembagian regu didasarkan pada nomor urut absen yang disesuaikan dengan urutan abjad, aku tidak berada di regu yang sama dengan Keyla.

Kemah itu diselenggarakan bertepatan dengan libur akhir tahun. Bukan acara OSPEK, kami sudah melakukan itu beberapa bulan sebelumnya. Kemah itu adalah proses penyeleksian calon pengurus OSIS yang baru, dengan metode yang juga baru.

Kabarnya perekrutan pengurus dengan metode lama menuai banyak protes karena hanya menyeleksi siswa-siswi yang berminat saja, sedangkan mayoritas peminat itu adalah anak-anak yang gila popularitas namun kurang berkualitas. Contohnya trio judes dari kelas April itu.

Perkemahan kami mengambil tempat di pinggir sebuah telaga, di sekitar dataran tinggi Dieng. Rombongan tiba di lokasi siang hari, tanggal 30 Desember.

Di sana, kami hampir selalu menggigil kedinginan, terutama saat hujan mengguyur. Namun semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Hampir seluruh agenda berhasil dilaksanakan. Setidaknya sampai 80 persennya.

Lalu tibalah kami pada malam terakhir perkemahan, malam puncak yang seperti biasa akan diisi dengan acara pentas seni. Tiap regu diwajibkan menampilkan minimal satu atraksi, sambil menunggu detik-detik pergantian tahun yang akan kami lewatkan bersama dengan acara renungan dan doa-doa. Agaknya alam merestui kami malam itu, sebab walau pun mendung tetap menggelayut, hujan tidak turun lagi sejak tengah hari.

Malam merambat naik, kami terlena dalam sorak-sorai dan tawa gembira. Malam yang biasanya sunyi di tempat terpencil itu mendadak riuh rendah. Untuk sekali itu, para serangga harus rela nyanyiannya kalah keras dari kegaduhan manusia. Kemudian tahun pun berganti dalam hitungan mundur yang dikumandangkan oleh sang host acara.

Sampai di situ, tak ada yang terasa janggal. Setelah beberapa buah kembang api dinyalakan, kami saling mengucapkan happy new year. Lalu suasana berganti hening, acara renungan segera dimulai. Semua larut dalam khidmatnya doa-doa.

Terakhir, penghujung doa panjang itu ditutup dengan sebuah lagu. April yang membawakannya secara akustik. Keren sekali, aku langsung terhipnotis.

Tuhan....

Tuhan yang Maha Esa

Tempat aku memuja

Dengan segala doa

Lagu lawas yang dipopulerkan oleh Bimbo itu meluncur apik dari bibir manis April, dengan harmonisasi yang menghanyutkan. Diawali oleh satu-dua orang, hampir semua orang jadi ikut menyanyi. Bahkan seseorang mendatangkan dua buah gitar lagi dari tenda peserta. Dengan kolaborasi tiga orang gitaris, semua orang seolah kompak melupakan waktu.

Akhirnya guru pembimbing OSIS-lah yang mengingatkan kami untuk segera bubar dan beristirahat, karena saat itu sudah lewat dari pukul 2 dini hari.

Saat bersiap tidur, teman-teman sereguku ribut saling berebut tempat di tengah tenda. Dua orang di antaranya malah bersitegang. Cukup sengit dan tak rampung-rampung, sampai nyaris bertengkar betulan kalau saja kegaduhan yang lebih besar di tenda sebelah tidak menyita perhatian kami. Dan kedengarannya itu bukan cuma sekadar persoalan berebut tempat tidur.

“Ada apa?” tanyaku sesampainya di tenda sebelah yang masih terbuka itu.

“Lihat Keyla, Rein?” tanya salah seorang dari mereka penuh harap.

“Keyla? Emang kenapa dia?”

“Dia nggak ada,” lapor Maya panik.

“Maksudnya nggak ada?”

“Nggak ada di sini. Ngilang nggak jelas ke mana.”

Di titik itulah, aku baru sadar bahwa sejak sore tadi memang terasa ada yang hilang. Ya, Keyla tak ada di sekitar kami dalam kemeriahan malam itu.

“Sejak kapan dia nggak ada?” Riska nimbrung di belakangku.

“Nah, itu dia. Kami nggak sadar sejak kapan dia nggak kelihatan. Terakhir kulihat sekitar jam 8 tadi.” jawab Eva bingung dan panik.

“Ayo coba cari dulu di tenda lain!” ajakku sambil lebih dulu bergegas meninggalkan tenda mereka.

Kami berkeliling dari tenda ke tenda. Keributan menyebar ke segenap penjuru perkemahan dalam sekejap.

Kelompok demi kelompok segera berpencar, memeriksa sekitar perkemahan. Regu kami sendiri sudah menyisir hingga radius kurang lebih 300 meter di sekeliling perkemahan. Semak belukar kami singkapi, ceruk-ceruk kami intipi, bahkan dahan-dahan pohon kami senteri barangkali saja Keyla tengah enak-enakan tidur di salah satu dahannya. Siapa tahu? Tapi hasilnya nol.

Mendekati pukul 4 pagi, semuanya berkumpul lagi. Tak ada seorang pun berhasil menemukan Keyla. Suasana diliputi ketegangan.

“Sudah coba cari di desa?” tanya guru kami.

“Di sekitar desa sudah, Pak. Tapi nggak enak membangunkan warga. Jadi kami cuma berkeliling, belum sampai menanyai ke rumah-rumah.”

Keyla. Otakku berusaha mengingat lagi kapan terakhir kalinya bertemu si cantik itu. Memang, aku tak melihatnya sepanjang malam. Aku terlalu sibuk dengan reguku sendiri, mempersiapkan pementasan drama komedi kami. Sore harinya? Ah ya, aku melihatnya melamun di bangku bambu depan tendanya menjelang maghrib.

Aku tak sempat menyapanya saat itu, sebab aku tengah terburu-buru membawa setumpuk piring kotor ke pancuran untuk dicuci. Kami akan segera makan, tapi Syifa dan Tita yang bertugas di dapur tak sempat mengurus soal perabot karena sibuk berlatih drama. Sekembalinya aku dari pancuran, dia sudah tak di sana, dan aku belum melihatnya lagi sejak saat itu.

“Mungkinkah dia nyasar?” Tanya Fatia setengah menggumam.

“Mau kemana emangnya? Semua orang lagi asyik di sini kok,” sahut Febri datar. 

“Mungkin jalan-jalan ke luar area.”

“Dan diculik kelong wewe!” Cetus Tita tercekat.

“Atau disekap sekelompok penjahat?” sahut Astrid nampak berpikir keras.

Pembicaraan sejenak terhenti saat Pak Guru menghampiri kami. “Keyla tadi tampil kan?” tanya beliau.

Kami saling pandang sejenak sebelum Astrid menggeleng. “Dia mendadak mundur, Pak. Tadinya memang dia sudah sering latihan bareng kami, tapi tadi mendadak dibatalkan dengan alasan nggak enak badan. Waktu kami sibuk persiapan, dia tidur-tiduran saja di tenda. Kami pikir dia masih di tenda. Tapi waktu kami ganti kostum selesai tampil, dia sudah nggak ada.”

Tak seorang pun yang melihat Keyla lagi setelah itu. Dan para anggota regu lain mengaku tak tahu menahu. Justru mereka tetap di lapangan karena sebagian besar dari mereka, terutama yang berjenis kelamin lelaki, menunggu penampilan Keyla. Tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Tidak di tengah pentas, tidak juga di sekitaran tenda-tenda.

Begitu matahari merekah, dengan tak sabar kami menyerbu desa terdekat untuk mencari Keyla dan menanyai penduduk setempat. Sedikit informasi kami dapatkan. Menurut seorang warga yang bertahan di pos ronda hingga jam 11 malam, dia melihat seorang anak perempuan bergaun merah menuruni jalan seorang diri ke arah luar desa.

Kami semua melongo. Gaun merah? Bagaimana ceritanya dia bisa memakai gaun? Peserta kemah dianjurkan memakai seragam olahraga atau _karena pakaian olahraga kami dari sekolah hanya satu stel_ kaos dan celana training bebas asalkan sopan. Untuk apa Keyla membawa gaun? Barang-barang seperlunya saja sudah cukup merepotkan.

“Pakai gaun, Pak?” ulang Kak Meilia tak yakin. “Bukan seragam olahraga seperti kami?”

“Iya, rok merah terusan, selutut. Luarnya dirangkapi jaket biru.”

“Seperti apa orangnya?”

“Putih, hidungnya mancung, mirip seperti orang londo.”

“Bapak tanya dia mau ke mana nggak?”

Pria itu mengangguk. “Katanya itu bagian dari kegiatan kemah, sejenis uji keberanian.” jawabnya bingung sendiri. “Ya saya percaya saja, saya pikir dia pasti diawasi gurunya dari jauh.”

“Setelah itu?”

“Setelah itu saya pulang, nggak tau apa-apa lagi.”

Teka-teki semakin membingungkan ketika seseorang menemukan satu stel seragam olahraga dengan nomor punggung yang cocok dengan nomor urut absen Keyla, tergeletak di balik semak-semak. Jadi dia berganti baju lebih dulu sebelum pergi? Untuk apa? Dan hendak ke mana?

Dibantu oleh warga, kami lalu menyisir jalan dan desa-desa yang kami lewati sebelum sampai di area perkemahan, mungkin saja Keyla kelelahan dan singgah di sana. Nihil. Semuanya nihil. Keyla Anastasia benar-benar menghilang. Secara misterius. Tapi yang lebih aneh lagi, siang hari ketika kami membongkar tenda, jaket denim biru milik Keyla ada di sebuah tenda regu lain dan ditawarkan kesana-kemari karena tak ada yang merasa memiliki.

Berminggu-minggu kemudian polisi dan tim SAR menyatakan tidak menemukan petunjuk apa pun, dan mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian.

Sementara itu, spekulasi yang berkembang di masyarakat desa-desa terdekat adalah: Keyla diculik kelong wewe. Menurut takhayul yang mereka percayai, jika lebih dari seminggu korban penculikan kelong wewe tidak berhasil diketemukan, itu artinya dia sudah menjadi warga alam lelembut dan tidak mungkin kembali.

 

***(bersambung)

 

INDI

Momen favoritnya adalah membaca novel detektif, di kala hujan, di dekat jendela kaca, ditemani secangkir kopi.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.