Di tengah hujan kulihat ia menatap tajam ke arahku, matanya coklat kehitaman, sedikit samar oleh air hujan, wajahnya tirus berkeriput, tubuhnya ditutupi jubah hitam lusuh yang kebas oleh hujan, tubuhnya sedikit gemetar.

Kucoba hiraukan tatapannya dan segera pergi dari persimpangan jalan ini.

Sudah ketiga kalinya aku bertemu sosok misterius itu, selalu di tempat yang sama dan selalu saat hujan sosok itu muncul. Situasi ini mengganguku, persimpangan yang selalu kulewati saat berjalan pulang dari sekolah, aku tak mengenali sosok itu, usianya tak terlalu muda mungkin sekitar 40 tahunan.

Sosok ini membuatku penasaran sekaligus membuatku khawatir, apakah mungkin dia orang jahat yang ingin menculikku, tapi itu tidak mungkin sekali, mana mungkin penculik berdiam di tengah hujan mengamati buruannya dan tidak berbuat apa-apa. Mungkin temanku tahu sosok misterius itu. Maka siang itu di kantin kutanyakan kepada Dan, teman dekatku.

“Kau sudah ketiga kalinya bertemu orang aneh itu Raf? lalu mengapa kau baru cerita sekarang? sudah lah jangan dipikirkan, mungkin dia fans beratmu Raf ahahahaha…..” Dasar si Dan ini.

“Mungkin jika kau bertemu lagi dengan orang aneh itu, coba kau dekati dia dan tanya saja langsung, tapi mungkin kau takut kan?”

“Kau tidak tahu, tatapan matanya itu yang membuatku takut Dan, bukan kehadirannya, kau akan merasakannya sendiri saat bertemu dia.”

“Aku tak berniat bertemu dia, lagian dia kan fansmu, untuk apa dia melihatku Raf.”

Obrolanku dengan Dan terhenti karena bel masuk telah berbunyi nyaring. Sial! Ulangan harian Biologi menanti mereka, hari yang buruk.

Bel pulang berbunyi, bergegas aku masukkan buku-buku ke dalam tas dan bergegas pulang. Hari ini cuacanya berawan, jadi saat nanti aku berjalan melewati persimpangan, mungkin tidak akan bertemu dengan sosok itu. Teringat perkataan Dan, jika sosok aneh itu muncul lagi, sarannya maka tanyakan saja langsung, ide gila temanku tak berlaku hari ini.

Musim hujan ini membuatku bersiaga dalam hal basah, menjaga buku-buku sekolahku dan tubuhku agar tetap kering, maka setiap hari aku bawa payung ibuku meskipun malah menambah berat tas yang penuh oleh barang-barang sekolah. Tapi entah mengapa sore itu cuacanya tidak hujan, tidak sedikitpun mendung atau menunjukkan tanda¬-tanda akan hujan, cuaca ini menyelamatkanku. Saat kulewati persimpangan itu, benar saja sosok aneh itu tidak muncul, aku bergegas belok ke kiri menuju jalan ke rumah.

Pagi itu aku telat masuk kelas karena ada sedikit gangguan di lingkungan rumah. Aku segera duduk di bangku paling belakang di sudut kiri kelas, untung saja gurunya belum datang.

“Dari mana saja kau? Untung Pak Kumis belum datang, bisa-bisa kena omelan mautnya kau, Raf.” Si Dan ini meledekku, dia tak tahu apa-apa sih. Aku malas menjelaskannya, namun memang sepertinya ada sesuatu yang mengganjal yang aku rasakan sejak saat pagi.

Kudengar, pagi tadi katanya ada yang meninggal atau lebih pantas disebut tewas, sesosok pria ditemukan tewas tergeletak dengan kondisi pakaiannya kebas oleh air, yang aku dengar dari para tetangga, mimik wajahnya membuat semua orang ngeri, matanya melotot, mulutnya menganga, kaki dan tangannya kaku layaknya kayu, itu yang kudengar.

Ditemukan di persimpangan jalan Hanko tepat di pinggir jalan sebelah kiri. Itu yang membuatku terpikir terus, sebab tempat itu adalah tempat dimana aku bertemu dengan sosok aneh itu.

                                                                                                    ***

Malamnya aku tak bisa tidur, tadi aku dimarahi habis-habisan oleh guru, bukan karena telat datang tapi Karena Pak Kumis melihatku melamun terus saat pelajaran. Aku tutup buku tugasku yang belum selesai, nanti saja di sekolah. Kucoba tidur malam itu.

Tengah malamnya aku terbangun karena sesuatu. Di luar ternyata hujan deras, padahal senja tadi langit masih terlihat cerah. Suara yang membangunkanku berasal dari luar, kucoba membuka tirai dan melongok keluar dari jendela. Entah apa yang kulihat, sesuatu yang membuat tubuhku merinding.

Di seberang pagar, di dekat pohon mangga belakang rumahku, kulihat sesosok siluet yang sedang memukulkan sesuatu seperti tongkat yang panjangnya kira-kira satu meter ke batang pohon itu dengan keras terus-menerus. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, ku hanya diam melihat selama sepuluh menit dalam kebisingan derasnya tetes hujan.

Tiba-tiba sosok itu berhenti, menaruh tongkat itu di tanah. Matanya langsung menatapku. Jantungku terasa hampir berhenti, tanganku bergetar memegang tirai jendela, kakikku mundur selangkah dalam kekakuan. Sosok itu mendekat melangkah perlahan, langkahnya berat ditambah beceknya tanah karena hujan, sosok itu memegang besi pagar rumahku, kulihat tangannya mencengkeram besi itu dengan kuat, saking kuatnya kuyakin tangannya berdarah. Sosok itu terus menatapku dalam derasnya hujan, dinginnya malam itu tak terasa karena tatapan sosok itu menusuk mataku.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku, menghapus lamunan karena kaku oleh tatapan sosok di depanku. Ayah masuk ke kamarku. Dia langsung melangkah, berdiri di depanku, seolah ingin melihat apa yang sedang aku lihat dari tadi.

“Jangan kau ganggu anakku, Han. Lupakanlah kesedihan tentang anakmu, maka kau akan tenang disana, anak ini tidak berdosa.” Apa ini? Ayah berbicara kepada sosok itu, bahkan ayah terlihat mengenal sosok yang dari tadi menatapku.

Sosok itu melihat ayahku dengan tatapan yang lebih tajam, tiba-tiba matanya menjadi kuning menyala, aku mundur beberapa langkah karena kaget. Ayahku tidak terkejut sama sekali, dia tampaknya berbisik, aku tak tahu dia berbisik apa. Seketika sosok itu mundur dengan cara yang menakutkan, tubuhnya seperti lentur tak bertulang, semakin menjauh dan menghilang ditelan samarnya malam berhujan itu.

“Tidurlah, nak.” Ayah menyuruhku, meski dalam kepalaku timbul banyak pertanyaan yang ingin ketanyakan kepada ayah, tapi rasa kantuk ini tak bisa kutahan.

Paginya saat hujan deras telah berhenti, kulihat ayah sedang memungut sesuatu di taman belakang dekat pohon mangga. Kulihat tangannya memegang secarik kertas basah dan kotor oleh tanah, dia membacanya. Kucoba membaca ekspresinya entah wajahnya hanya datar memandang isi kertas itu. Ku alihkan pandanganku, teringat akan sekolah, ku bergegas keluar dari kamarku, mandi dan sarapan.

Saat sebelum aku berangkat sekolah, kulihat kertas itu ada di bagian bawah meja ruang tamu, mungkin ayah menaruhnya sebelum berangkat kerja tadi. Kuambil dan kucoba membaca isi surat basah dan kotor itu. Kalimat itu tersusun dari huruf huruf yang menurutku sangat acak acakan dan kacau tapi semua huruf itu masih bisa ku kenali, tinta huruf itu luntur sebagian oleh air hujan, tertulis.

Jagalah anakmu atau kau akan mengalami apa yang anakku alami

*Sechan, teman lama yang kau ambil nyawanya.

Teman lama yang kau ambil nyawanya? Siapa? Aneh sekali isi surat ini.

“Ayahmu sangat ceroboh sekali.” Deg! Suara berat itu terdengar di kupingku, suara itu serak dan nyaris tidak menyerupai suara manusia normal. Kutolehkan leherku kebelakang dengan amat perlahan, tubuhku gemetar hebat.

Jantungku berhenti, mata itu kuning menyala dengan pupil menipis kecil seperti hewan liar, kantung matanya terlihat merah berdarah. Sosok itu mendekatikku dengan cepat, kedua tangannya terangkat ke depan ke arahku, kuku-kukunya tajam berdarah, mendekat mencekikku.

**

 

Taufik

love writing

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.